Bangsa Akan Tersandera sebagai Konsumen Oleh Simon Saragih

Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia berkat populasi muda dan kelas menengah yang meningkat. Namun, tanpa inovasi, Indonesia berisiko hanya menjadi konsumen produk asing. Defisit neraca jasa dan pembayaran royalti menunjukkan ketergantungan tinggi pada teknologi luar negeri. Sementara negara seperti China sukses membangun industri inovatif, Indonesia masih tertinggal dalam riset dan pengembangan. Padahal, inovasi adalah kunci kemandirian ekonomi dan penggerak pertumbuhan jangka panjang. Tanpa dorongan serius terhadap inovasi, riset, dan teknologi, Indonesia sulit lepas dari ketergantungan ekonomi dan tidak akan mampu menjadi negara adidaya di masa depan.

 

*****

Bukan hal baru lagi jika dunia memuji Asia, termasuk Indonesia. Ada konsumen kelas menengah dan penduduk berusia muda. Ini adalah salah satu hal yang membuat investor dunia terus berdatangan ke Asia dan juga Indonesia. Akan tetapi, ada potensi Indonesia akan hanya menjadi konsumen dan ekstremnya penonton.

Secara empiris neraca perdagangan Indonesia selalu mengalami defisit dalam hal neraca jasa (service account). Pada 2015, misalnya, ada defisit sebesar 8,6 miliar dollar AS untuk neraca jasa dan defisit sebesar 7 miliar dollar AS pada 2016. Defisit kategori ini menandakan jasa luar negeri lebih besar penggunaannya ketimbang jasa warga Indonesia di luar negeri.

Di dalam neraca jasa ini termasuk pembayaran royalti, lisensi, hak paten atas penggunaan teknologi milik asing, kecuali produk bajakan. Produk bajakan ini selalu menjadi kelemahan Indonesia dalam perundingan dagang internasional, terutama dengan AS, sebagaimana ditegaskan mantan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Dalam hal neraca perdagangan untuk kategori barang (goods) Indonesia juga selalu mengalami defisit untuk kategori barang-barang modal, seperti permesinan, mobil, dan produk berteknologi tinggi.

Indonesia sebenarnya tidak sendirian mengalami ini. Namun, ke depan era ekonomi berpusat di Asia Pasifik dan ini sudah mulai terlihat jelas. Sudah berkali-kali Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde, misalnya, memuji Asia dan Indonesia sebagai mesin pertumbuhan ekonomi global karena besarnya potensi konsumen.

Akan tetapi, bisa jadi Indonesia hanya akan jadi sasaran penjualan produk asing semata dengan konsekuensi pembayaran royalti dan sejenisnya yang membebani bertahun-tahun ke depan.

China adalah negara yang paling cepat menangkap hal ini dengan mengambil pengalaman dari Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. China telah beranjak jauh dengan menghasilkan pesawat terbang komersial buatan sendiri untuk pengangkutan udara ratusan juta warganya ke depan. China juga sudah berhasil membuat otomotif buatan domestik serta menghasilkan produk telepon genggam setara iPhone, sebagai salah satu contoh.

China sangat kencang dan tergolong merangsang inovasi di dalam negeri, termasuk di universitas-universitas. Seperti dikatakan Jodi Goldstein, Direktur Pelaksana Harvard Innovation Lab, di majalah Forbes edisi 1 Juni, rangsangan pada mahasiswa diperlukan untuk menciptakan dunia yang berbeda.

Indonesia sebagai negara besar dengan sebagian penduduk cerdas masih jauh dari terarah menuju status negara inovator. Sampai sejauh ini belum terlihat arah ke sana. Di sisi lain inovasi membutuhkan proses lama untuk diuji sehingga layak pasar.

Inilah salah satu kelemahan Indonesia, yang masih jauh dari kesadaran. Soal inovasi ada kelengahan besar sehingga di masa depan Indonesia hanya jadi konsumen. Untuk pengembangan sektor pertanian saja, misalnya, di mana Indonesia menjadikannya sebagai salah satu andalan, Thailand berada jauh di depan.

Pendorong laju pertumbuhan

Inovasi akan memberi nilai tambah produksi sekaligus mampu menggerakkan perekonomian. Almarhumah ekonom AS, Eleanor Lansing Dulles, di jurnal The American Economic Review (Maret, 1942) pernah menuliskan hasil karya AS bidang logam turut mendorong perkembangan industri logam AS. Hal ini termasuk sebagai salah satu pendobrak terbesar kemajuan transportasi AS yang semakin memuluskan laju pertumbuhan dan melengkapi kemajuan ekonomi AS di abad lalu.

Inovasi juga akan bisa menghentikan mata rantai defisit royalti yang belum berhasil diputuskan oleh Indonesia.

Inovasi juga akan menjadi jalan untuk membuka kotak pandora karena asing akan sulit melakukan transfer teknologi. Mereka akan mempertahankan dominasi atas sebuah perekonomian lewat pemasaran produk mereka.

Jadi, bukan hal aneh, misalnya, jika Indonesia sampai sekarang belum bisa menuntaskan isu ”turn-key project”. Ini termasuk sebutan untuk sebuah proyek yang dibiayai dari bantuan asing, yang menjadi utang untuk Indonesia dan harus dibayar.

Proyek jenis ini dijalankan semuanya oleh asing, termasuk jasa keuangan, jasa teknisi oleh para ahli dari negara sumber pinjaman. Salah satu penyebab hal seperti ini adalah inovasi yang belum berhasil memandirikan Indonesia dalam banyak hal.

Ada banyak kerugian material bagi negara yang lengah berpacu soal inovasi. Inilah salah satu diskursus bagi Indonesia, yang diproyeksikan akan menjadi salah satu negara adidaya (super-power) dalam 50 tahun ke depan. Sukses tidaknya menjadi negara adidaya tergantung juga pada kelihaian soal inovasi yang jika berhasil sekaligus akan memandirikan bangsa secara relatif dari segi ekonomi.

Author: Arsiparis Gagasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *